‘Persib Day’ dan Keheningan 90 Menit

Seolah itu merupakan ibadah wajib yang jika ditinggalkan akan menimbulkan dosa. Mahasiswa, karyawan, pemuda, pensiunan, petani, wanita, janda, duda, jomblo, dan pelbagai kalangan lainnya rasa-rasanya tak pernah sanggup menanggung dosa itu. Mereka menamakan hari sakral itu dengan; Persib Day!

Dokumentasi pribadi
Harinya Persib sudah menjadi seperti waktu jeda alias tak ada aktivitas di Bandung dan sekitarnya, karyawan perusahaan elit sampai karyawan industri rela menanggalkan perkerjaannya hanya karena ingin menyaksikan klub kebangaannya berlaga selama 90 menit. Pun dengan mahasiswa baik negeri maupun swasta, mereka akan bolos kuliah dan lebih memilih stadion ketimbang kelas. Semua seperti nothing to lose saja. Tidak ada kebijakan dari pemerintah setempat yang mengatur bahwa semua warga wajib menghentikan aktivitasnya untuk menghormati klub sepak bola Persib Bandung tampil dan menciptakan keheningan selama 90 menit. Tidak ada sama sekali intervesi seperti itu. Saat Persib Day, komunitas, kafe, warung kopi, hingga pelosok perkampungan seolah berlomba menyediakan tempat nobar alias nonton bareng. Mulai dari yang layarnya kecil, sederhana, layar tancap, hingga layar besar dan megah. Laga tandang atau pun kandang tak jadi soal untuk mengadakan nobar, jika pun Persib bermain di kandang nobar adalah alternatif lain bagi masyarakat yang tidak kebagian tiket ke stadion. Seperempat jam menuju kick off biasanya jalanan kota mulai sepi, bagi Bon Jovi (Re: Bobotoh Nu Lalajo di TV atau Bobotoh yang menonton lewat televisi) cukup dengan menyeduh kopi dan menyiapkan beberapa cemilan untuk 90 menit ke depan kemudian duduk manis di hadapan layar kaca, tapi untuk bobotoh yang biasa ke stadion dan tahu betul akses tiket yang membuatnya tidak pernah kehabisan lembar demi lembar tiket masuk stadion, sejak satu jam jelangkick offpun mereka sudah berdesakan di pintu masuk Si Jalak Harupat. Menganalogikan Persib Day tidak cukup hanya dengan hal-hal sederhana, memang Persib Day itu terlihat begitu simpel yang jika dimaknai hanya soal harinya Persib bertanding. Namun, ada hal yang rumit untuk bisa memahami betul istilah Persib Day seutuhnya. Jika Persib adalah agama, maka Persib Day adalah waktunya shalat atau sembahyang. Seperti itulah analogi ekstremnya. Seperti hari besar lainnya, ketika Persib bertanding jalanan tidak hanya sepi melainkan juga dirundung keheningan yang akut. Hanya suara teriakan Gooooooollllyang bisa membelah keheningan dari setiap sudut rumah atau tempat nobar di sudut jalan. Persib Day tak ubahnya hari besar macam idul fitri, perkampungan dirasa hening sekali seolah kehidupan berhenti sejenak hanya karena pertandingan sepak bola. Kedegilan yang selalu ditunggu-tunggu. Suatu waktu saya pernah menguji keheningan 90 menit itu di kawasan yang tak terlalu jauh dari pusat kota Bandung. Dengan cara yang amat sederhana; berjalan menelusuri jalanan yang biasanya ramai. Malam itu, bukan Persib Day biasa, hari Persib dengan penuh harapan, harapan untuk juara tentunya (red: final Piala Presiden 2015). Memang ada beberapa kendaraan atau manusia seperti saya yang berlalu lalang memecah keheningan waktu itu namun bisa dimaklumi mereka mungkin orang-orang yang pikun kalau hari ini adalah pertandingan besar Persib. Atau ada alasan lain? Bisa saja mereka kaum minoritas yang tak menyukai Persib. Keramaian hanya tersedia di beberapa titik saja seperti layar besar yang dikerumuni orang banyak, hanya keramaian yang itu-itu saja. Keramaian yang lumrah terjadi saat Persib Day tiba. Tentu keheningan 90 menit tersebut menyodorkan kerinduan bagi saya yang mendambakan jalanan kota Bandung yang sedikit hening dari biasanya, karena memang saya tak kebagian Bandung tempo dulu yang masih asri. Kadang saya harus berterima kasih kepada Persib Day! Hari ini bertepatan dengan pertandingan leg-1 semi final Piala Presiden 2017 antara Pusamania Borneo FC vs Persib Bandung saya mencoba mencari kembali keheningan 90 menit itu. Penelitian kecil-kecilan tanpa metode saya terapkan, dengan mencoba mengajak rekan kuliah untuk menghadiri salah satu acara bedah buku di Asia Plaza Sumedang atau mencari kolektor koran di kota Bandung. Dan jawabannya pun sudah bisa ditebak: Maaf hari ini Persib Day, sok asa teu paruguh kalo Persib tanding ulin-ulinan teh. (Maaf hari ini Persib Day, suka kurang nyaman kalau Persib tanding diajak main). Pada akhirnya, saya harus menikmati tradisi yang diciptakan alami oleh lingkungan sekitar. Padahal hari ini merupakan libur kuliah yang artinya jika dihabiskan di luar rumah tentunya akan menarik toh Persib main jam 18.00. Mungkin, kalkulasi waktu juga menjadi pertimbangan keputusan rekan saya itu, Sumedang-Bandung tidak cukup menghabiskan waktu seharian, kalau masih keukeuh, sudah barang tentu pulang malam dan melewatkan Persib Day menjadi resikonya. Pertandingan Persib selalu sama dari dulu; soal keheningan. Tidak ada aktivitas, khususnya setelah kick off dilangsungkan. Keheningan yang sulit disembunyikan lagi. Namun, setelah pertandingan usai, orang-orang tak ubahnya semut yang keluar dari tempat persembunyiannya, ada yang mencari makan, ada yang sekadar ngopi untuk menceritakan pertandingan, ada yang pulang ke rumah (dari stadion), semuanya satu tujuan; ingin membelah keheningan 90 menit yang mereka ciptakan sendiri di tempat-tempat yang biasanya ramai. Dalam hitungan jam, keheningan 90 menit itu akan segera mendatangi. Keheningan yang paling ditunggu-tunggu oleh kaum minoritas (red: bukan bobotoh) maupun mayoritas (red: bobotoh). Selamat Persib Day dan menikmati keheningan 90 menit!

mcwax.com judi poker online terpercaya Sumber: Kompasiana